HTR Terbakar Ulah Illegal Drilling, Usman LSM Kompihtal: Mabes Polri dan KLHK Harus Tindak Tegas

Batang Hari, Jambi – Kegiatan Illegal Drilling di Hutan Taman Rakyat (HTR) Sultan Thaha Syaifudin Kabupaten Batang Hari sudah tidak menjadi rahasia umum lagi. Kebakaran sumur beberapa waktu lalu memperlihatkan bahwa kegiatan tersebut masih beroperasi, Selasa (20/02/2024).

Akibatnya puluhan hektar HTR hangus terbakar dan memakan korban jiwa. Tidak hanya itu, lingkungan sekitar juga ikut terdampak.

Salah satu aktivis lingkungan, Usman Yusup ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Masyarakat Peduli Hutan Tahura dan Lingkungan (Kompihtal) angkat bicara.

“Kami mendapat informasi bahwa api di kawasan tahura yang disebabkan oleh meledaknya sumur minyak ilegal sampai saat ini belum bisa dipadamkan. Saat ini sudah berjalan selama dua minggu,” katanya saat ditemui di kantor Kesbangpol Batang Hari.

Ia menuturkan, akan membuat surat laporan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Saya akan membuat surat laporan ke kementrian KLHK dan semua kementrian terkait kalau perlu sampai ke presiden,” ucapnya berang.

Karena kami lihat aktifitas illegal drilling di kawasan hutan tahura senami seolah olah kebal hukum.

“Semakin hari semakin menjadi, bukannya semakin berkurang. Hal ini tentu saja tak terlepas dari keterkaitan dengan para oknum aparat yang diduga ikut andil dalam aktifitas tersebut,” tegas Usman.

Menurutnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang Hari tidak akan sanggup untuk berbuat, apa lagi untuk menghentikan aktivitas tersebut. Selain tak punya kekuatan, personil DLHjuga pasti merasa takut untuk bertindak karena diduga ada para oknum penegak hukum yang bermain.

“Jadi jalan satu satunya kita harus buat laporan ke kementrian dan Mabes POLRI. Karena, aktivitas illegal drilling di kawasan Tahura saat ini bukan hanya soal eksploitasi minyak bumi secara ilegal tetapi juga sudah mengancam kerusakan hutan seperti saat ini puluhan hektar hutan terbakar siapa yang akan bertanggung jawab,” kata Usman Yusup. (Red)




Lancar Jaya, Bisnis Illegal Drilling di Batang Hari Jadi Incaran Investor

Batang Hari, Jambi – Maraknya kegiatan illegal drilling di wilayah hukum Polres Kabupaten Batang Hari Polda Jambi menjadi perhatian para pemilik modal besar (investor). Pasalnya penghasilan dari minyak ilegal cukup menjanjikan, terlebih lagi kegiatan tersebut aman terkendali, Sabtu (10/02/2024).

Terpantau, pembeli (pengepul) minyak ilegal di Desa Bulian Baru Kecamatan Batin XXIV rata-rata tidak berbahasa daerah Jambi, kalau pun berasal dari daerah Jambi pasti memiliki bos dari luar daerah.

“Dari kemarin kami tidak dapat minyak banyak bang. Ini be mobil kami belum penuh-penuh, kalau sudah penuh bisa langsung kami antar ke luar daerah Jambi,” ucap salah satu pengepul yang enggan disebutkan namanya.

Ia juga enggan menyebutkan nama pemilik modal, yang pasti kami hanya bekerja untuk cari makan.

“Para pemilik sumur minyak ilegal rata-rata sudah diarahkan oleh oknum-oknum untuk menjual hasil minyaknya kepada pengepul tertentu,” keluhnya.

Ia menambahkan, “Persaingan harga menjadi faktor utamanya bang. Sudah banyak orang yang menjadi pengepul, jadi pandai-pandai kami lah untuk menyetop para pelansir untuk mengantarkan minyaknya ke kami.”

Terpisah, salah seorang yang awak media ini temui mengaku berasal dari daerah lain yang berencana untuk ikut berbisnis minyak ilegal.

“Saya dari (luar daerah) bang, pingin lihat potensi di sini. Saya sudah empat kali ngebor minyak cuma tidak ada hasilnya alias zonk,” ucapnya.

Bukan hanya masalah persaingan, para Transportir juga mengeluhkan banyaknya warga yang membuat portal untuk mengutip sejumlah uang.

“Kalau kami keluar lewat jalan Senami-Sridadi itu banyak sekali portal, bisa-bisa menghabiskan sampai dengan tiga juta,” tutur transpotir.

Salah seorang warga setempat yang masih disembunyikan identitasnya mengaku membuat portal agar bisa mencicipi hasil dari kegiatan ilegal.

“Kami berinisiatif untuk buat portal agar bisa mencicipi hasil minyak ilegal, jangan cuma jadi penonton saja,” ucapnya.

“Hasilnya nanti rencananya untuk menambah kegiatan Isra’Mi’raj di musholah kami. Karena kami sudah bosan dengan kegiatan ini, sepertinya tetap saja berjalan meskipun sudah pernah ditutup pasca kejadian kebakaran beberapa bulan yang lalu,” tambahnya.

Selama tiga minggu semenjak portal dibuat, ia mengaku ada enam sampai dengan tujuh mobil minyak yang lewat.

“Kalau hari terang itu bisa enam atau tujuh mobil yang lewat. Kami sering kebablasan ketika di siang hari, masih ada mobil yang lewat namun penjaga portal tidak ada kalau siang hari,” tuturnya.

“Aktivitas ini setiap hari, kalau memang APH serius menyelesaikan illegal drilling, pasti banyak yang tertangkap,” singkatnya. (Red)